
Ketidaksetujuan itu hal yang wajar dalam hubungan. Nggak ada pasangan yang selalu sependapat soal semua hal, mulai dari pilihan restoran, cara mengatur keuangan, sampai hal-hal besar seperti rencana masa depan. Aku pribadi ngerasa, ketidaksetujuan bukan masalah kalau kita tahu cara menghadapi dengan dewasa dan komunikatif.
Langkah pertama adalah terima bahwa perbedaan itu normal. Aku sering bilang ke teman-teman, jangan pernah berharap pasangan selalu sepaham dengan kita. Saat kita sadar bahwa ketidaksetujuan itu wajar, kita nggak gampang tersinggung atau defensif. Dengan mindset ini, setiap perbedaan bisa jadi kesempatan buat belajar memahami pasangan.
Selanjutnya, dengar dulu sebelum menanggapi. Banyak konflik muncul karena kita terlalu cepat menjawab atau menilai. Aku pribadi ngerasa cukup dengarkan pasangan sampai mereka selesai menjelaskan pandangannya. Kadang, dengan mendengar dulu, kita bisa lihat bahwa ketidaksetujuan itu bukan soal benar atau salah, tapi sekadar perspektif yang berbeda.
Yang nggak kalah penting adalah gunakan bahasa“aku” atau I-Statements. Daripada bilang, “Kamu salah karena nggak setuju denganku,” lebih baik bilang, “Aku merasa kurang nyaman kalau hal ini nggak berjalan seperti yang aku harapkan.” Cara ini bikin pasangan nggak merasa diserang, dan percakapan tetap konstruktif.
Selain itu, fokus pada solusi, bukan memenangi argumen. Aku belajar, banyak pasangan yang terjebak rebutan siapa yang benar atau salah. Padahal tujuan utamanya adalah tetap harmonis dan menemukan jalan tengah. Aku pribadi ngerasa jauh lebih efektif kalau kita langsung cari kompromi atau solusi bersama.
Tetapkan batas waktu dan tempat untuk diskusi juga penting. Nggak semua ketidaksetujuan harus dibahas saat emosi tinggi atau di tengah aktivitas padat. Aku sering menyarankan buat ngobrol di momen tenang, misal malam hari atau saat weekend. Dengan suasana yang santai, kita bisa lebih fokus dan minim salah paham.
Selain itu, jaga nada bicara dan bahasa tubuh. Nada tinggi, gestur menuding, atau ekspresi kesal bisa bikin pasangan defensif. Aku pribadi ngerasa ketidaksetujuan bisa diselesaikan dengan lebih mudah hanya dengan intonasi yang lembut, senyum ringan, dan kontak mata yang hangat.
Yang terakhir, hargai perbedaan dan belajar menerima kompromi. Nggak semua hal bisa sepakat 100%, dan itu nggak masalah. Aku ngerasa hubungan yang sehat muncul ketika kita bisa kompromi tanpa merasa kalah atau menang. Kadang, belajar menerima perbedaan malah bikin hubungan lebih dewasa dan harmonis.
Intinya, menghadapi ketidaksetujuan dalam hubungan itu soal menerima perbedaan, mendengar dulu, menggunakan bahasa “aku”, fokus solusi, pilih waktu tepat, jaga nada & gestur, dan kompromi. Dengan strategi ini, perbedaan nggak jadi sumber konflik besar, tapi justru bikin hubungan lebih sehat, nyaman, dan harmonis. Ketidaksetujuan bukan musuh, tapi kesempatan untuk tumbuh bareng pasangan.





