
Berkencan bisa jadi hal yang menyenangkan, terutama ketika kita merasa cocok dengan seseorang. Namun, sering kali kita lupa bahwa dalam hubungan apapun, baik itu yang baru dimulai maupun yang sudah berjalan lama, batasan yang sehat sangatlah penting. Batasan ini bukan berarti kita membatasi kebebasan pasangan, tetapi lebih pada bagaimana kita menjaga kenyamanan dan kesejahteraan emosional diri kita sendiri, serta memastikan hubungan tetap berjalan dengan penuh rasa saling menghormati. Jadi, bagaimana cara menetapkan batasan yang sehat saat berkencan?
Pertama, kenali kebutuhan dan kenyamanan diri sendiri. Setiap orang memiliki kebutuhan dan kenyamanan yang berbeda-beda dalam hubungan. Sebelum memulai atau melanjutkan sebuah hubungan, penting untuk memahami apa yang membuat kita merasa aman dan nyaman. Misalnya, apakah kamu lebih suka punya ruang pribadi setiap hari, atau mungkin kamu merasa perlu untuk selalu berbicara dengan pasangan setiap waktu?Mengetahui apa yang kamu butuhkan akan membantumu menetapkan batasan yang jelas.
Jangan takut untuk mengatakan “tidak”. Salah satu bagian dari menetapkan batasan yang sehat adalah belajar untuk mengatakan “tidak” ketika sesuatu tidak sesuai dengan kenyamanan atau nilai-nilai kita. Mungkin pasangan ingin kamu melakukan sesuatu yang tidak kamu suka, seperti berbicara lebih terbuka tentang masa lalu yang belum siap kamu ceritakan, atau melakukan hal-hal yang terasa terlalu cepat. Jangan merasa bersalah atau takut ditinggalkan hanya karena menolak sesuatu yang tidak nyaman untukmu. Mengatakan “tidak” adalah bentuk penghargaan terhadap dirimu sendiri.
Komunikasikan batasan dengan jelas dan terbuka. Salah satu kunci untuk hubungan yang sehat adalah komunikasi yang baik. Jika kamu merasa tidak nyaman dengan sesuatu, bicarakan hal tersebut dengan pasanganmu dengan cara yang jujur dan penuh pengertian. Misalnya, jika kamu butuh waktu sendiri setelah berkencan atau butuh ruang untuk fokus pada pekerjaan, sampaikan dengan cara yang tidak menyinggung perasaan pasangan. “Aku butuh waktu sendiri untuk fokus pada pekerjaanku, jadi mungkin kita bisa saling memberi ruang sejenak.” Dengan komunikasi yang terbuka, pasangan akan lebih memahami dan menghormati batasan yang kamu tetapkan.
Selain itu, tentukan batasan yang realistis dan fleksibel. Batasan yang sehat tidak harus kaku dan tidak bisa diganggu gugat. Sering kali, kita menghadapi situasi yang memerlukan kompromi. Namun, penting untuk tidak mengorbankan batasan yang kita anggap vital untuk kenyamanan dan kebahagiaan kita. Misalnya, jika pasangan meminta lebih banyak waktu bersama, sementara kamu merasa sudah memberi cukup waktu, cobalah untuk mencari kompromi, seperti menetapkan waktu berkualitas bersama tanpa mengorbankan kegiatan atau ruang pribadimu. Batasan itu harus tetap fleksibel, tetapi tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan diri sendiri dan pasangan.
Jangan abaikan perasaanmu. Kadang-kadang kita terlalu sibuk mencoba membuat pasangan senang hingga kita melupakan perasaan kita sendiri.Batasan yang sehat harus selalu memperhatikan perasaanmu. Jika ada hal yang membuatmu tidak nyaman, entah itu dalam percakapan, sikap pasangan, atau harapan yang ada, segeralah bicarakan. Jangan diam saja dengan perasaan yang terpendam karena itu akan menumpuk dan bisa berdampak buruk pada hubungan. Mengabaikan perasaanmu hanya akan membuat hubungan tersebut tidak sehat dalam jangka panjang.
Terakhir, hargai batasan pasangan juga. Menetapkan batasan sehat bukan hanya tentang diri kita, tetapi juga tentang menghormati batasan pasangan. Ingatlah bahwa hubungan yang sehat membutuhkan saling pengertian. Jika pasanganmu memiliki batasan atau kebutuhan yang berbeda, jangan diabaikan atau dipaksakan. Hormati batasan mereka dan temukan titik tengah yang membuat kalian berdua merasa nyaman dan dihargai.
Intinya, menetapkan batasan dalam berkencan itu bukan berarti kita membatasi hubungan atau mengurangi kedekatan, melainkan untuk menjaga agar hubungan tetap sehat, saling menghargai, dan tidak merugikan satu sama lain. Jangan takut untuk menetapkan batasan yang sesuai dengan diri kita, berbicara dengan jujur tentang apa yang kita butuhkan, dan tetap fleksibel dalam berkompromi. Dengan cara ini, hubungan bisa berkembang dengan baik tanpa melupakan kesejahteraan pribadi.





