
Banyak orang sering menganggap mencari pasangan itu seperti mencari barang di toko. Kita masuk, melihat-lihat, lalu berharap menemukan “barang” yang paling cocok dengan keinginan. Padahal, hubungan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar transaksi jual beli. Pasangan bukan benda yang bisa langsung ditemukan begitu saja, melainkan seseorang yang akan kita bangun cerita panjang dengannya. Karena itu, istilah mencari pasangan bukanlah pencarian seringkali menyesatkan. Yang lebih tepat adalah mempersiapkan diri untuk bertemu pasangan yang sesuai.
Kalau kita melihat kehidupan sehari-hari, tidak jarang ada orang yang bilang, “Aku sudah cari pasangan ke sana kemari, tapi kok belum ketemu juga ya?” Kalimat ini menunjukkan seolah pasangan itu ada di luar sana, tinggal menunggu kita menemukannya. Padahal, banyak kasus membuktikan bahwa ketika kita sendiri belum siap, sekalipun pasangan yang baik datang, kita tetap akan kesulitan menjalin hubungan sehat. Jadi sebenarnya kuncinya bukan di luar, melainkan ada di dalam diri kita.
Persiapan itu bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu mengenal diri sendiri. Misalnya, apa nilai hidup yang penting buat kita, bagaimana cara kita menghadapi konflik, atau apa tujuan jangka panjang yang kita harapkan. Orang yang tahu dirinya cenderung lebih mudah membangun hubungan yang stabil. Sebaliknya, kalau kita sendiri belum paham apa yang kita mau, pasangan yang kita “temukan” bisa jadi hanya menambal kekosongan, bukan benar-benar sejalan dengan perjalanan hidup kita.
Bayangkan kalau kita ingin ikut lomba lari maraton. Kita tidak bisa hanya mengandalkan semangat saat hari H. Kita perlu latihan, mengatur pola makan, bahkan belajar teknik pernapasan. Hubungan juga begitu. Kalau kita berharap pernikahan atau hubungan jangka panjang berjalan lancar, maka persiapan mental, emosional, dan bahkan spiritual sangat diperlukan. Proses ini yang membuat kita lebih tangguh ketika menghadapi dinamika hubungan.
Banyak pasangan yang retak bukan karena mereka tidak saling cinta, melainkan karena kurang persiapan menghadapi kenyataan. Cinta bisa membawa dua orang bersatu, tetapi yang membuat mereka bertahan adalah kesiapan untuk menerima perbedaan, mengelola konflik, dan terus berkomitmen. Jadi, mencari pasangan tanpa mempersiapkan diri seperti membeli tiket konser tanpa tahu lagu-lagunya—kita mungkin datang, tapi tidak bisa menikmati sepenuhnya.
Selain itu, persiapan juga mencakup kesiapan finansial dan gaya hidup. Bukan berarti harus kaya raya sebelum punya pasangan, tetapi minimal tahu cara mengelola uang, punya arah karier, dan tidak menggantungkan semua kebutuhan pada orang lain. Pasangan yang baik bukanlah “penyelamat”, melainkan teman seperjalanan. Kalau kita datang ke hubungan dengan beban yang belum beres, maka pasangan akan kewalahan dan hubungan bisa cepat goyah.
Hal lain yang tak kalah penting adalah kesiapan emosional. Pernah dengar istilah “healing before loving”? Kalau kita masih menyimpan luka dari hubungan sebelumnya, lebih baik sembuhkan dulu sebelum memulai yang baru. Bukan berarti harus sempurna, tapi setidaknya tidak membawa trauma masa lalu sebagai bagasi berat ke hubungan berikutnya. Persiapan seperti ini membuat kita bisa memberi yang terbaik, bukan hanya meminta yang terbaik dari pasangan.
Jadi, ketika ada teman yang bertanya, “Kapan nih cari pasangan?”, mungkin lebih bijak kita jawab, “Aku lagi mempersiapkan diriku dulu.” Karena ketika diri sudah siap, biasanya orang yang tepat akan datang di waktu yang tepat juga. Kita tidak perlu terburu-buru mencari ke sana kemari. Fokus saja pada pertumbuhan diri, memperluas wawasan, menjaga kesehatan mental, dan memperkuat nilai-nilai hidup. Dari situlah hubungan yang sehat bisa tumbuh.
Pada akhirnya, pasangan hidup bukan hadiah lotre yang tiba-tiba jatuh ke pangkuan kita. Ia adalah hasil dari kesiapan kita menyambut, merawat, dan bertumbuh bersama orang lain. Maka, jangan sibuk mencari ke luar, tapi sibukkan diri mempersiapkan ke dalam. Dengan begitu, ketika saatnya tiba, kita bisa berkata dengan mantap: “Aku siap, bukan hanya untuk menemukan, tapi juga untuk bertahan dan membangun.” Itulah mengapa mencari pasangan bukanlah pencarian, melainkan sebuah proses mempersiapkan diri untuk hubungan yang sehat dan langgeng.





