
Ketegangan dalam hubungan itu wajar. Kadang masalah kecil bisa bikin suasana panas, atau salah paham sederhana bisa berubah jadi drama panjang. Aku pribadi sering bilang ke teman-teman dan klien, kunci supaya hubungan tetap sehat dan nyaman adalah komunikasi yang efektif dan terbuka. Dengan cara ini, ketegangan nggak menumpuk dan hubungan tetap harmonis.
Langkah pertama adalah kenali perasaan sendiri sebelum ngomong. Sebelum meluapkan kemarahan atau kecewa, tarik napas dulu, pahami apa yang sebenarnya kita rasakan, dan kenapa perasaan itu muncul. Aku ngerasa ini penting supaya saat ngobrol, kita nggak menyalahkan pasangan tanpa alasan yang jelas. Komunikasi jadi lebih dewasa dan nggak defensif.
Selanjutnya, gunakan bahasa “aku” atau I-Statements. Misal, daripada bilang, “Kamu selalu telat!” lebih baik bilang, “Aku ngerasa sedih dan kecewa ketika kita telat ketemu.” Aku pribadi ngerasa ini bikin pasangan nggak merasa diserang, tapi ngerti apa yang kita rasakan. Cara ini sederhana tapi ampuh untuk menurunkan ketegangan.
Selain itu, dengar dulu sebelum merespon. Banyak konflik muncul karena salah paham, dan seringkali kita terlalu cepat menjawab atau membela diri. Aku belajar, cukup dengarkan pasangan sampai mereka selesai cerita, ulangi atau rangkum apa yang mereka maksud, dan baru kasih respon. Dengan cara ini, ketegangan otomatis berkurang karena komunikasi jadi lebih jelas.
Yang nggak kalah penting adalah tetapkan waktu dan tempat yang tepat untuk diskusi. Nggak semua masalah harus dibahas di tengah emosi tinggi atau saat lagi sibuk. Aku pribadi ngerasa kalau ngobrol di tempat nyaman dan hati tenang bikin percakapan lebih produktif dan minim drama.
Selanjutnya, fokus pada solusi, bukan menyalahkan. Aku sering lihat orang terjebak rebutan siapa yang benar atau salah, padahal tujuan sebenarnya adalah memperbaiki masalah. Aku pribadi belajar, lebih efektif kalau langsung pikirkan langkah konkret yang bisa dilakukan berdua, daripada terus menyalahkan.
Selain itu, jaga nada dan bahasa tubuh. Nada tinggi, gestur menuding, atau ekspresi marah bisa bikin pasangan defensif. Aku ngerasa ketegangan bisa turun drastis hanya dengan tersenyum ringan, kontak mata yang hangat, dan intonasi yang tenang. Bahasa tubuh itu powerful, bahkan lebih dari kata-kata.
Yang terakhir, evaluasi dan refleksi setelah diskusi. Setelah masalah terselesaikan, pikirkan apa yang berhasil dan apa yang bisa diperbaiki. Aku pribadi ngerasa refleksi bikin kita makin dewasa, komunikasi lebih lancar di masa depan, dan ketegangan bisa dicegah sejak awal.
Intinya, mengatasi ketegangan dalam hubungan itu soal kenali perasaan, gunakan bahasa “aku”, dengar dulu, pilih waktu tepat, fokus solusi, jaga nada & gestur, dan refleksi. Dengan komunikasi yang efektif, hubungan jadi lebih nyaman, pasangan merasa dihargai, dan konflik bisa diselesaikan dengan dewasa tanpa drama yang nggak perlu.





