
Pertengkaran itu wajar dalam hubungan. Bahkan pasangan yang paling serasi sekalipun pasti pernah bertengkar soal hal-hal kecil, mulai dari siapa yang mencuci piring, siapa yang memilih film, hingga hal-hal besar seperti prioritas hidup atau rencana masa depan. Aku pribadi sering bilang ke teman dan klien, kuncinya bukan menghindari pertengkaran, tapi mengetahui cara menghadapinya dengan dewasa dan konstruktif.
Langkah pertama adalah menyadari bahwa pertengkaran itu normal. Jangan pernah merasa gagal atau hubunganmu bermasalah hanya karena sering berselisih. Aku ngerasa dengan mindset ini, kita nggak gampang stres atau defensif setiap kali ada ketegangan. Pertengkaran justru bisa jadi kesempatan untuk memahami pasangan lebih dalam dan memperkuat hubungan.
Selanjutnya, kenali pola pertengkaran yang sering muncul. Aku biasanya menyarankan teman untuk mencatat atau refleksi: topik apa yang sering jadi pemicu, siapa yang biasanya mulai, dan bagaimana reaksinya. Dengan paham pola, kita bisa lebih siap menghadapi situasi serupa di masa depan dan mencegah pertengkaran jadi lebih besar.
Yang nggak kalah penting adalah tarik napas dan jangan langsung bereaksi. Saat emosi memuncak, mudah banget ngomong hal yang menyakitkan. Aku pribadi belajar untuk memberi waktu sejenak, menenangkan diri, dan baru mulai diskusi dengan kepala dingin. Cara ini seringkali bikin pertengkaran lebih pendek dan lebih produktif.
Selain itu, gunakan bahasa “aku” atau I-Statements. Daripada bilang, “Kamu selalu bikin aku kesal,” lebih baik bilang, “Aku merasa sedih ketika hal ini terjadi.” Aku ngerasa bahasa ini bikin pasangan nggak defensif dan lebih mudah mendengar perasaan kita, sehingga pertengkaran nggak berubah jadi drama panjang.
Selanjutnya, dengar dulu sebelum merespons. Banyak pertengkaran muncul karena salah paham atau nggak saling mendengar. Aku pribadi ngerasa kalau kita bisa fokus mendengar perspektif pasangan, kita nggak gampang menilai, dan solusi bisa ditemukan lebih cepat.
Fokus pada solusi, bukan menyalahkan juga penting. Aku sering melihat pasangan terjebak rebutan siapa yang benar atau salah. Padahal tujuan sebenarnya adalah menjaga hubungan tetap sehat dan nyaman. Dengan fokus pada solusi, pertengkaran lebih produktif dan nggak meninggalkan rasa sakit yang berlarut-larut.
Selain itu, pilih waktu dan tempat yang tepat untuk diskusi penting. Pertengkaran yang dibahas saat capek atau di tempat ramai biasanya malah makin runyam. Aku belajar, ngobrol saat suasana hati tenang bikin percakapan lebih efektif dan hasilnya lebih baik.
Yang terakhir, evaluasi dan refleksi setelah pertengkaran. Setelah ketegangan mereda, pikirkan apa yang berhasil, apa yang bisa diperbaiki, dan bagaimana kita bisa menghadapi situasi serupa di masa depan. Aku pribadi ngerasa refleksi ini bikin hubungan lebih dewasa dan harmonis, dan pertengkaran yang sama nggak akan terus berulang.
Intinya, menghadapi pertengkaran yang sering terjadi dalam hubungan itu soal sadar normalnya konflik, kenali pola, tarik napas, gunakan bahasa “aku”, dengar pasangan, fokus solusi, pilih waktu tepat, dan refleksi. Dengan cara ini, pertengkaran nggak lagi bikin stres atau merusak hubungan, tapi justru jadi kesempatan untuk tumbuh bersama dan memperkuat ikatan emosional.





