Tuesday, February 17, 2026
Persiapan Diri

Menghindari Kriteria Pasangan yang Tak Realistis

65views

Kalau kita bicara soal mencari pasangan, banyak orang tanpa sadar membuat daftar kriteria yang panjang—seolah-olah sedang menulis spesifikasi untuk membeli gadget terbaru. Ada yang bilang, “Aku pengen pasangan yang ganteng atau cantik, pintar, mapan, romantis, dewasa, humoris, perhatian, rajin ibadah, nggak ribet, dan setia.” Kalau dihitung-hitung, kriterianya bisa sampai belasan. Masalahnya, apakah realistis ada satu orang yang memenuhi semua itu sekaligus?

Menyusun kriteria memang penting, karena kita butuh arahan tentang seperti apa pasangan yang cocok. Tapi sering kali kriteria yang kita buat lebih mirip daftar impian daripada kebutuhan nyata. Hasilnya, kita bisa saja melewatkan orang baik hanya karena dia tidak sesuai dengan “standar” yang kita tetapkan. Misalnya, seseorang yang tulus dan penuh perhatian bisa saja diabaikan hanya karena dia tidak punya tinggi badan ideal seperti di bayangan kita.

Kriteria pasangan yang terlalu tinggi atau tak realistis bisa jadi jebakan yang bikin kita terus merasa kurang. Kita jadi sibuk mencari sosok sempurna, padahal manusia sejatinya penuh dengan kekurangan. Hubungan yang sehat bukan tentang menemukan pasangan tanpa cela, melainkan tentang menemukan seseorang dengan kekurangan yang bisa kita terima, dan bersama-sama tumbuh di dalamnya.

Bayangkan kalau kita terus berpegang pada kriteria muluk. Misalnya, kita hanya mau pasangan yang sukses secara finansial sejak awal. Padahal, banyak orang yang sedang berproses, membangun karier, dan punya potensi besar untuk berkembang. Kalau kita menutup pintu hanya karena dia belum “mapan” saat ini, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk tumbuh bersama dengan orang yang sebenarnya cocok.

Menghindari kriteria yang tak realistis bukan berarti kita harus pasrah dan menerima siapa saja. Tentu saja ada hal-hal penting yang tidak bisa ditawar, seperti kesetiaan, kejujuran, dan rasa hormat. Kriteria dasar ini perlu dijaga, karena menyangkut kesehatan dan masa depan hubungan. Namun, hal-hal teknis seperti penampilan fisik, status sosial, atau bahkan hobi yang terlalu spesifik, sebaiknya dipandang dengan lebih fleksibel.

Baca juga  Mengatasi Ketakutan Komitmen: Tips dari Seorang Psikolog

Kadang, kita terjebak pada kriteria yang sebenarnya bukan berasal dari diri kita, tapi dari tekanan sosial atau standar orang lain. Misalnya, keluarga menginginkan pasangan yang punya profesi tertentu, atau lingkungan sekitar menganggap pasangan harus punya gaya hidup tertentu. Kalau kita mengikuti semua itu tanpa bertanya pada diri sendiri, kita bisa kehilangan kesempatan menemukan cinta yang sebenarnya sesuai dengan kebutuhan kita.

Yang lebih sehat adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah hal-hal fundamental yang membuat hubungan bisa berjalan—seperti komunikasi yang baik, visi hidup yang sejalan, dan saling menghargai. Sedangkan keinginan lebih bersifat tambahan, seperti pasangan yang jago main musik atau hobi traveling. Kalau kebutuhan terpenuhi, keinginan bisa dinegosiasikan atau bahkan dilengkapi bersama-sama dalam perjalanan hubungan.

Penting juga untuk diingat bahwa kita pun bukan pasangan yang sempurna. Sama seperti kita berharap orang lain bisa menerima kelemahan kita, begitu juga sebaliknya. Hubungan yang langgeng terbangun bukan karena dua orang tanpa kekurangan bertemu, tapi karena dua orang yang mau saling menerima dan melengkapi.

Jadi, daripada sibuk mencari pasangan yang sesuai dengan daftar panjang kriteria, lebih baik kita fokus pada hal-hal inti yang benar-benar penting. Semakin realistis kriteria kita, semakin besar peluang kita menemukan pasangan yang bukan hanya cocok di atas kertas, tapi juga nyaman di hati. Karena pada akhirnya, hubungan bukan soal menemukan sosok sempurna, melainkan soal membangun kebersamaan dengan orang yang mau berproses bersama kita.

Leave a Response