
Banyak orang berpikir keintiman dalam pernikahan cuma soal fisik, padahal maknanya jauh lebih luas. Keintiman itu tentang kedekatan emosional, rasa aman, dan koneksi batin antara dua orang yang saling percaya. Aku pribadi percaya, keintiman adalah “lem” yang bikin pernikahan tetap kuat, bahkan saat cobaan datang. Tapi sayangnya, setelah bertahun-tahun menikah, hal ini sering terlupakan karena kesibukan dan rutinitas.
Langkah pertama untuk menumbuhkan keintiman adalah membangun komunikasi yang jujur dan terbuka. Aku sering bilang, pasangan yang bisa ngobrol dari hal receh sampai yang paling serius biasanya punya hubungan yang lebih kuat. Bukan cuma bicara tentang masalah, tapi juga hal-hal kecil sehari-hari—cerita lucu, kekhawatiran, atau mimpi pribadi. Dari obrolan kecil seperti ini, kedekatan emosional tumbuh tanpa disadari.
Selanjutnya, berikan waktu dan perhatian penuh saat bersama. Kadang kita terlalu sibuk dengan pekerjaan atau gadget sampai lupa hadir sepenuhnya untuk pasangan. Aku pribadi ngerasa, keintiman nggak bisa tumbuh kalau perhatian kita terbagi. Matikan sejenak notifikasi, dengarkan pasangan dengan penuh perhatian, dan tunjukkan bahwa mereka penting buatmu.
Yang nggak kalah penting adalah menjaga sentuhan fisik dan kasih sayang sederhana. Banyak pasangan yang setelah menikah lama jadi jarang berpelukan, bergandengan tangan, atau mencium pasangan tanpa alasan khusus. Padahal, sentuhan kecil itu punya efek luar biasa dalam menjaga kedekatan. Aku percaya, pelukan bisa menyampaikan rasa aman yang kadang nggak bisa diungkap dengan kata-kata.
Selain itu, tunjukkan rasa menghargai dan apresiasi setiap hari. Jangan tunggu momen besar buat bilang “terima kasih” atau “aku bangga sama kamu.” Aku ngerasa kata-kata kecil seperti ini bikin pasangan merasa dihargai dan diperhatikan. Rasa dihargai adalah bahan bakar utama dalam hubungan jangka panjang.
Bangun rutinitas kebersamaan yang menyenangkan. Bisa sesederhana sarapan bareng, jalan sore, atau nonton serial favorit. Aku pribadi ngerasa keintiman bukan dibangun lewat momen besar, tapi lewat kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali. Rutinitas positif menciptakan rasa “kita satu tim,” dan itu bikin hubungan makin kuat.
Selain itu, belajar terbuka soal kebutuhan emosional dan fisik. Banyak konflik muncul karena salah satu pihak merasa nggak didengar atau kebutuhan mereka diabaikan. Aku sering bilang, nggak apa-apa ngomong jujur tentang apa yang kamu butuhkan, selama disampaikan dengan lembut dan penuh rasa hormat. Kejujuran ini justru memperkuat rasa saling percaya.
Yang terakhir, pelihara rasa humor dan tawa bersama. Tertawa bareng bisa mencairkan suasana dan mengingatkan bahwa hubungan nggak harus selalu serius. Aku ngerasa tawa adalah bentuk kedekatan yang paling natural—tanda bahwa dua orang masih bisa menikmati kebersamaan mereka, apa pun kondisinya.
Intinya, menumbuhkan keintiman dalam pernikahan itu soal komunikasi, perhatian penuh, sentuhan fisik, apresiasi, rutinitas positif, kejujuran emosional, dan tawa. Keintiman nggak tumbuh dalam semalam; ia butuh waktu, konsistensi, dan niat untuk terus saling mendekat. Tapi begitu tumbuh, keintiman jadi fondasi yang bikin hubungan tetap hangat, tenang, dan bertahan dalam jangka panjang.





