
Pernah nggak, saat ngobrol dengan pasangan atau orang yang kita suka, kita justru merasa seperti sedang “diperiksa”? Bukan karena niat buruk, tapi cara bertanya kita terkadang terdengar seperti interogasi. Akibatnya, lawan bicara jadi nggak nyaman dan malah menutup diri. Padahal, tujuan kita sebenarnya hanya ingin lebih mengenal mereka. Nah, di sinilah pentingnya memahami seni bertanya: bagaimana membuat percakapan mengalir alami, penuh kehangatan, dan tidak menekan.
Hal pertama yang perlu dipahami adalah niat di balik pertanyaan. Kalau kita bertanya hanya untuk mengorek informasi, wajar saja kalau terasa kaku. Tapi kalau niat kita tulus untuk mengenal lebih dalam, bahasa tubuh, nada suara, dan kata-kata kita akan terasa lebih hangat. Lawan bicara akan merasakan perbedaan antara “aku ingin tahu” dan “aku menghakimi.”
Kunci berikutnya adalah gunakan pertanyaan terbuka. Pertanyaan yang jawabannya lebih dari “iya” atau “tidak” biasanya lebih memancing cerita. Misalnya, daripada bertanya, “Kamu suka film horor?” lebih baik, “Film apa yang paling berkesan buat kamu dan kenapa?” Pertanyaan terbuka memberi ruang bagi pasangan untuk bercerita lebih panjang, dan dari situ obrolan bisa mengalir ke arah yang lebih seru.
Selain itu, penting juga untuk memberi respon aktif. Jangan cuma bertanya lalu diam, tapi tunjukkan ketertarikan lewat ekspresi, senyuman, atau komentar kecil. Kalau pasangan cerita tentang pengalaman masa kecil, kita bisa menimpali, “Wah, lucu banget. Aku juga dulu sering main kayak gitu.” Respon kecil seperti ini membuat percakapan terasa seperti berbagi, bukan sekadar sesi tanya-jawab.
Trik lain agar pertanyaan tidak terasa mengintimidasi adalah selipkan humor atau spontanitas. Misalnya, kalau pasangan cerita tentang hari yang melelahkan di kantor, kita bisa bertanya, “Jadi, siapa nih yang paling sering bikin kamu pengen resign setiap Senin pagi?” Pertanyaan ringan seperti ini tetap relevan, tapi lebih menyenangkan. Humor membantu suasana jadi cair tanpa mengurangi makna percakapan.
Timing juga berpengaruh besar. Pilih momen yang tepat untuk bertanya hal yang lebih dalam. Jangan langsung bertanya hal pribadi di awal kenalan atau saat pasangan sedang lelah. Mulailah dari obrolan ringan, biarkan suasana nyaman, baru perlahan masuk ke topik yang lebih serius. Pertanyaan yang dilontarkan di waktu yang pas akan lebih mudah diterima daripada pertanyaan yang dilempar sembarangan.
Jangan lupa, ceritakan juga pengalaman kita sendiri. Percakapan yang sehat itu timbal balik. Kalau hanya satu pihak yang bertanya, bisa terasa berat di satu sisi. Jadi, saat pasangan selesai menjawab, kita bisa menambahkan, “Aku juga pernah ngalamin hal mirip, waktu itu rasanya…” Dengan begitu, percakapan jadi lebih seimbang dan terasa alami.
Intinya, seni bertanya bukan sekadar soal memilih kata, tapi tentang bagaimana kita membuat orang lain merasa aman dan nyaman untuk bercerita. Dengan niat tulus, pertanyaan terbuka, respon aktif, humor ringan, timing yang tepat, dan berbagi pengalaman pribadi, kita bisa membuat percakapan jadi lebih dalam tanpa terasa seperti interogasi. Pada akhirnya, obrolan yang hangat itulah yang akan mempererat hubungan kita.





