
Ada banyak pasangan yang udah bertahun-tahun pacaran, tapi belum juga melangkah ke pelaminan. Bukan karena nggak cinta, tapi karena berbagai alasan: belum siap finansial, masih ingin fokus karier, atau sekadar menunggu “waktu yang tepat.” Tapi di sisi lain, hubungan yang terlalu lama tanpa arah juga bisa bikin salah satu pihak mulai mempertanyakan, “Kita sebenarnya mau ke mana, sih?”
Kalau kamu dan pasangan lagi ada di fase ini, tenang — kamu nggak sendiri. Banyak hubungan panjang yang justru menemukan ritme dan maknanya di tahap ini. Tapi, supaya nggak terjebak di zona abu-abu, penting banget untuk mulai memperjelas arah dan ekspektasi hubungan.
Langkah pertama: komunikasikan tujuan kalian. Kadang pasangan lama terbiasa nyaman sampai lupa membicarakan hal besar seperti masa depan. Coba duduk berdua dan ngobrol santai — bukan dengan nada menuntut, tapi lebih ke arah reflektif. Misalnya, “Menurut kamu, hubungan kita mau dibawa ke mana?” atau “Apa yang bikin kamu belum siap menikah sekarang?” Pertanyaan seperti ini membantu kalian saling memahami, bukan saling menekan.
Selanjutnya, evaluasi hubungan dengan jujur. Setelah bertahun-tahun, wajar kalau hubungan berubah — dari yang dulu penuh kejutan jadi lebih stabil dan tenang. Tapi jangan salah, stabil bukan berarti stagnan. Tanyakan pada diri sendiri: apakah kamu masih tumbuh dalam hubungan ini? Apakah kalian masih saling mendukung dan menghargai satu sama lain? Kalau jawabannya iya, berarti fondasi kalian kuat. Tapi kalau tidak, mungkin sudah saatnya untuk memikirkan ulang arah hubungan.
Hal penting lainnya adalah hindari perbandingan. Kadang tekanan datang bukan dari dalam hubungan, tapi dari luar — teman yang sudah menikah, keluarga yang mulai bertanya, atau media sosial yang penuh postingan lamaran dan bayi lucu. Percayalah, setiap hubungan punya waktu dan jalannya sendiri. Jangan terburu-buru menikah hanya karena merasa tertinggal. Menikah karena tekanan bukan solusi, malah bisa bikin hubungan kehilangan makna.
Tapi di sisi lain, jangan juga terjebak dalam kenyamanan tanpa komitmen. Banyak pasangan yang “menunda” terlalu lama karena merasa segalanya sudah enak seperti ini. Tapi tanpa kejelasan, hubungan bisa kehilangan arah dan tujuan. Aku sering bilang ke pasangan yang datang konsultasi, hubungan yang sehat bukan yang paling lama, tapi yang punya arah yang jelas. Kalau salah satu dari kalian mulai ingin kepastian, jangan diabaikan — bicarakan dengan terbuka dan penuh empati.
Selain itu, tetap jaga kualitas hubungan. Hubungan yang sudah lama kadang kehilangan “api” karena rutinitas. Coba segarkan lagi dengan kencan kecil, perjalanan singkat, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa gadget. Hal-hal sederhana kayak ini bisa membantu menjaga kedekatan emosional dan membuat hubungan terasa hidup lagi.
Terakhir, kenali tanda-tanda kesiapan diri. Mungkin kamu sebenarnya ingin menikah, tapi masih punya ketakutan atau keraguan — entah soal keuangan, tanggung jawab, atau kesiapan mental. Nggak apa-apa. Pernikahan bukan lomba siapa yang duluan, tapi keputusan besar yang butuh kesadaran. Yang penting, kamu dan pasangan punya arah yang sama, meski langkahnya berbeda.
Intinya, untuk pasangan yang sudah lama berkencan tapi belum menikah: komunikasikan arah hubungan, evaluasi dengan jujur, hindari tekanan luar, tetap jaga kedekatan, dan pahami kesiapan diri. Karena hubungan yang matang bukan diukur dari lamanya waktu, tapi dari seberapa dalam kalian saling mengenal dan mendukung satu sama lain.





